Indahnya SMA

Sebuah pemikiran yang berdasarkan hati ditambah dengan bumbu imajinasi


maka terciptalah sebuah cerita.Cerita apakah itu tergantung penulis ingin bagaimana cerita tersebut, bisa jadi cerita biasa namun bisa membuat banyak orang ingin merasakan hal yang sama.Mengapa penulis membuat cerita ini? penulis ingin mengimplentasikan apa yang ingin penulis rasakan di masa depan, penulis yang penuh kegalauan sehingga dapat membuat cerita yang syahdu.

AKU

Chalil Radit, teman-temanku biasa memanggilku Chalil. Aku hidup dikota yang situasinya tidak terduga terkadang kota ini terasa damai dan terkadang kota ini juga berasa seperti sedang perang mungkin ini hanyalah perasaanku saja toh damai atau tidaknya suatu tempat juga tergantung kita.

Masa SMA, banyak orang mengatakan bahwa masa yang indah ketika remaja adalah saat SMA bagaimana bisa? aku sedang mencari arti indahnya masa SMA karena kini aku adalah siswa tingkat bawah di SMA.

Mencari sebuah arti indahnya masa SMA tidak semudah mencari arti sebuah kata yang dapat kita temukan dalam kamus dan terkadang itu juga terasa sulit bagi kita. Ini adalah kisahku mencari arti indahnya masa SMA.

Aku adalah murid baru di sebuah Sekolah Menengah Atas, memasuki dunia yang baru setelah masa SMP yang aku lewati. Bagaimanapun ketika kita menjadi murid baru selalu saja ada namanya masa Ospek, banyak siswa yang mengatakan bahwa Ospek adalah hal yang sia-sia, tapi bagiku ini adalah sebuah hal yang cukup menarik kaarena kita bisa mengenal banyak siswa lainnya dan menjalin hubungan kekerabatan.

Masa Ospek kali ini aku rasakan ada yang berbeda karena tidak ada lagi perlakuan-perlakuan yang tidak baik kepada murid baru.

Hari pertama sekolah. Cukup menegangkan karena ini adalah lingkungan yang baru bagiku dan mungkin bagi beberapa siswa lainnya. Pada malam harinya aku telah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk Ospek kali ini, memang sedikit terlambat karena yang lainnya sudah menyiapkan peralatan Ospek jauh hari sebelum hari ini tentu saja kalau terlambat menyiapkan sesuatu kita jadi kerepotan karena segala sesuatunya harus disiapkan dengan cepat.

Siswa baru diwajibkan menggunakan kemeja putih dan celana atau rok hitam bagi siswi, terlihat seperti seorang yang sedang mencari pekerjaan haha.

Tepat pukul tujuh pagi bel sekolah berbunyi aku belum pernah mendengar suara bel sekolah seperti itu sebelumnya suaranya seperti sebuah alunan piano yang dimainkan dengan hasrat tinggi hingga sedikit terdengar seperti musik Turki ya begitulah gambaran bel sekolahku.

Siswa dan siswi dibariskan dilapangan sesuai dengan kelompoknya masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya.Aku belum mengenal orang-orang yang ada dikelompok aku, rasanya sedikit canggung karena ya seperti halnya kita ingin kenalan dengan orang yang kita belum kenal.

Barisan kelompokku berada pada bagian tengah. Dari tempatku berada aku dapat melihat sosok wanita yang membuatku ingin mencari tau siapa dia. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena tertutup oleh banyaknya siswa. Selama seharian kami diberikan kegiatan yang cukup bermanfaat walau lebih banyak tidak bermanfaat.

Hari kedua masa Ospek like yesterday ya sama seperti kemarin hari kedua ini tidak terlalu bermanfaat memang ada manfaatnya sedikit saja.Dan tentu saja ada seseorang wanita yang selalu aku perhatikan sampai hari kedua ini aku masih belum mengetahui siapa dia.

Hari ketiga adalah hari yang menyenangkan karena di hari terakhir ini adalah hari dimana kami seluruh siswa dan siswi baru bermain game yang sudah ditentukan panitia. Tiap kelompok masing-masing mengirimkan satu perwakilan untuk tiap game kira-kira ada sekitar 5 game yang dipermainkan.

Aku ikut bermain memasukkan air kedalam pipa yang bolong dan harus ditutup dengan apapun tentunya dengan kerja sama tim. Permainananya sangat seru dan kami basah-basahan kami sempat masuk final namun dikalahkan oleh kelompok tiga.

Setelah selesai bermain aku melihat-lihat perminan yang lainnya. Aku selalu memperhatikan orang yang masih membuatku ingin mengetahui siapa dia.


Masa ospek berlalu dengan indah kurasa karena banyak hal yang aku dapatkan. Seorang wanita yang membuatku tertarik panggil saja dia si Misterius.

Keseharianku disekolah bisa dikatakan sama seperti murid yang lainnya bahkan mungkin dibawah mereka karena aku tidak mengikuti satupun organisasi dan juga eksul di sekolah sedangkan teman-temanku yang lain mengikutinya.


Alasannya tidak jelas akunya saja yang terlalu malas mengikuti suatu kegiatan karena aku fikir hanya akan menghabiskan waktu untuk istirahat.

Meskipun aku tidak mengikuti sebuah ekskul ataupun organisasi sekolah tapi aku mengikuti sebuah perkumpulan siswa yang ingin memperdalam mempelajari ilmu fisika atau yang disekolahku disebut dengan Klub Fisika.

Mungkin banyak orang berfikir bahwa aku adalah orang yang cukup pandai dalam bidang fisika tapi aku selalu berfikir aku tidak terlalu pandai karena aku masuk Klub fisika karena ingin mempelajari fisika karena menurutku fisika adalah suatu hal yang cukup menarik. Aku memulai benar-benar dari awal karena aku tidak terlalu paham dasar-dasar fisika.


Shelly


Si misterius begitulah aku menggambarkan sosok wanita itu, Entah siapa dia aku tidak mengetahuinya. Dari awal masuk sekolah aku terus memperhatikan mencari tahu siapa dia? sangat jarang aku menemui cewe misterius itu disekolah mungkin dia jarang keluar kelas.

Sudah satu minggu aku sekolah namun satu pertanyaan yang masih belum terjawab seluas apakah sekolah ini? sebanyak apakah manusia di lingkungan sekolah ini hingga aku jarang melihat sosok misterius.

Bel sekali lagi berbunyi pertanda sudah waktunya untuk kembali belajar. Aku dan teman-temanku memasuki kelas sudah sepuluh menit kami menuggu tidak juga pak Kevin masuk, pak Kevin adalah guru biologi yang cukup mahir dalam bidangnya dan cukup bersahabat ketika memberi tugas jadi banyak murid yang menyukai pak Kevin memiliki perawakan yang masih mudah dengan rambut yang klimis dan kumis yang tipis cukup membuat banyak murid-murid cewe senang belajar dengan pak Kevin.

Saat itu ada kabar yang mengatakan bahwa pak Kevin sedang ada urusan dengan kepala sekolah sehingga akan telat masuk kelas, Sontak Iboy berteriak " Free Class" begitu hebohnya hingga membuat cewe-cewe rajin menatapnya sinis.

Iboy siapa yang tidak mengenal dia? siswa baru yang sudah membuat keributan dengan kakak kelas XII pada hari pertama sekolah. Iboy bisa dikatakan anak yang bandel namun cukup pandai dalam pembelajaran seni budaya, kretifitas dia bisa dikatakan sangat tinggi, sebagaimana anak bandel lainnya tentu memiliki banyak teman disekolah.

Aku berfikir untuk menanyakan wanita misterius itu kepada Iboy, Iboy adalah murid yang bandel namun tidak banyak cerita karena banyak juga siswa bandel namun banyak cerita

Aku mendekati Iboy "Iboy", "Langsung saja ada apa" sahutnya, aku mengajaknya keluar kelas agar tidak diketahui banyak orang "kenal cewe anak X IPS yang tingginya sebahuku selalu pake sepatu warna oranye biru ". Aku tidak dapat terlalu jelas menggambarkannya karena jarang sekali bertemu.

"Oooh si Resha cewe pendiam itu? ada apa?" jawabnya dengan datar "Engga ada apa-apa sih cuman mau tanya aja" seketika aku senyum-senyum sendiri karena untuk waktu yang cukup lama aku akhirnya mengrtahui namanya. "Udah itu aja? bikin capek aja lu pake keluar kelas segala" Iboy sedikit kesal sepertinya "Iya iya maaf deh, tapi makasih banyak ya" Iboy langsung masuk lagi kedalam kelas.

Semenjak saat itu mulai mencari-cari bagaimana sifatnya, beberapa kali aku sempat melihatnya saat aku menatapnya dia sempat menatap balik walau hanya sebentar.

Aku sedang berjalan di koridor belakang pentas sekolah tiba-tiba saja "Chalill" dengan teriakan yang cukup keras,ternyata Putri, aku menoleh kebelakang.

Putri adalah sahabatku disekolah aku mengenalnya sejak Ospek dan dia orangnya asik sampe-sampe sok kenal wkwk Putri seorang jomblo yang berkelas katanya dan anak cewe yang jarang keluar

Panggilan Putri membuat banyak orang dikoridor melihatnya Buat malu saja aku membatin. "Ada apa" jawabku sambil berjalan "Ke perpus yok ada buku yang mau aku cari, lagi pula aku rindu" Ekspresi Putri saat minta tolong bikin ga bisa nolak , "iyaaaiyaaa kita ke perpus," Oiya Putri udah dua hari engga masuk karena sakit katanya.

Kami pun putar arah menuju perpus sekolah. Hal yang malas ke perpus adalah harus buka sepatu, eh si Putri udah duluan masuk memang itu anak.

Setelah masuk ke Perpus tepat didepanku ada wanita yang sedang kesusahan mengambil buku hingga harus melompat kecil namun tidak dapat juga, Haha aku tertawa didalam hati .

Aku merasa kasihan sama cewe itu langsung saja aku mendekatiknya dan mengambilkan buku itu "Ini bukunya" dia sedikit terkejut.

"Terimakasih banyak yaa kak" nada yang halus membuat hati adem namun seketika jantungku berdetak dengan cepat aliran darah mengalir begitu cepat pikiranku seakan-akan buyar.

Dialah Shelly si misterius, aku tidak menyangka itu dia meski pandangannya selalu kebawah namun sekali-kali dia melihatku, sempat terjadi kontak mata sebentar yang membuatku semakin kegirangan.

Pipinya mulai memerah padam dan sedikit ekspresi senyum, membuatku semakin sulit berkata-kata. Terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata ada perasaan bahwa hanya ada aku dan dia di perpustakaan ini.

Putri memanggilku, tiba-tiba saja aku salah tingkah dan langsung saja aku beranjak keluar dari perpustakaan. Sepertinya putri melihat aku sama Shelly.

"Ciee ciee Chalil dapat gebetan ni" suara dari belakangku "Ah biasa aja Put" dengan dingin kujawab


Air langit



Memasuki triwulan ketiga di tahun ini seperti biasanya, memasuki musim penghujan.


*****


Dari jendela kelas terlihat jelas air yang berjatuhan dengan cepat. Hanya tersisa aku dan Putri dikelas biologi, Putri menyuruhku untuk menuggunya karena ada tugas yang hampir selesai dikerjakan, katanya sih nanggung.

Sambil menuggu Putri aku memandangi hujan turun dari jendela sambil mengamati lingkungan sekitar.


"Hujan itu memang penuh kenangan" terdengar langkah kaki yang mulai mendekatiku.

"Iya kenangan indah yang kita lewati bersama orang yang tersayang" aku tetap memadangi hujan diluar.

"Tidak hanya kenangan indah, tapi juga kenangan buruk yang pernah kita lakukan saat hujan" nafas kami berubah menjadi embun dikaca jendela.

"Kenangan buruk tidaklah selamanya buruk hanya tergantung kita menyikapinya terkadang itu bisa menjadi kenangan yang indah saat kita memikirkannya ulang" imbuhku.

Seperti hanyut dalam suasana bahuku dijadikan sandaran oleh Putri, kami terdiam sejenak. "Kamu benar setelah aku fikirkan, Hujan itu 10% air 90% kenangan" Putri mulai puitis, aku sedikit tersenyum memikirkan keadaan ini "Ah sudahlah ayok keluar kan tadi katanya mau pulang"

Sambil berjalan keluar kelas, terdengar suara yang sangat berisik dari loteng sekolah menandakan bahwa hujan sengatlah deras. "Eh kamu pulang hujan-hujan gini?engga nuggu hujan reda dulu?" Tanya Putri sedikit cemas. "Sepertinya aku akan langsung pulang hujan-hujan" seperti biasa aku hanya menjawab datar.

"Kenapa engga pulang bareng aku aja?" sahabatku yang satu ini sangat perhatian.

"Engga ah Put nanti merepotkan kamu dan papa mu saja" tanpa sadar ternayata kami sudah sampai digerbang sekolah. Ini saatnya berpisah Putri akan tetap berada digerbang sekolah menuggu jemputan dan aku akan pergi keparkiran. Aku menemani Putri sebentar disini.

"Aku duluan ya Put, selamat sore", "Oke selamat sore" dengan senyumannya yang manis

Sampai diparkiran aku melihat Randy sedang mencari motornya. Randy adalah teman sekelasku yang bisa dibilang cukup pandai dalam bidang kimia, memiliki tinggi seperti rata-rata murid SMA dengan alis tebalnya yang khas dan kulit putihnya yang diidamkan para cewe. "Randyyy, pulang bareng yuk" sapaku "Boleh tuh tapi temenin gue cari motor dulu" dengan ekspresi bingungnya. "Iyaa iyaa"



*****


Tidak ada yang lebih indah cara menikmati hujan bersama teman sambil motoran. Membawa motor dengan santai dengan kondisi hujan yang deras tanpa menggunakan jas hujan adalah hal yang sedikit gila disaat kebanyakan orang memilih untuk meneduh didepan sebuah ruko aku dan Randy malah menikmati hujan.

Entah apa yang kami pikirkan tapi ini adalah hal yang menyenangkan. Sedikit cerita diajalan, tertawa bersama dan suara klakson mobil dan motor yang terdengar, adalah hal yang kami lalui diperjalanan menuju warung bakso pak Mamat.

Randy memberhentikan motornya di warung bakso pak Mamat tidak ada rencana sebelumnya akan pergi makan bakso dulu tapi aku ngikut aja lagi pula menyantap bakso ditemani teh hangat adalah hal menu yang pas dikala hujan ini. Randy sangat lahap menyantap bakso sampai-sampai aku baru makan setengah saja.

"Lama amat makannya lil" suaranya sedikit sombong

"Menikmati bakso yang kita makan disaat hujan begini adalah cara yang tepat Ran" aku sedikit tidak jelas berbicara karena masih ada bakso dimulutku.

Kami melanjutkan kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing. Hujan sudah mulai reda jalanan mulai dipenuhi alunan nada dan aroma abstrak yang keluar dari knalpot kendaraaan motor ataupun mobil.

Setelah melewati simpang empat jalanan mulai macet sepertinya ada banjir didepan. Macet adalah hal yang melelahkan tapi untungnya kami sudah mengisi tenaga dengan makan bakso pak Mamat. Bermacet ria dijalanan dengan banjir setinggi mata kaki, asap mulai keluar dari panasnya mesin motor yang terkena air.

Tingkat emosi ketika banjir makin meningkat sepertinya karena sepanjang jalan aku sering kali mendengar klakson yang dibunyikan dengan abstrak. Randy sepertinya mulai kesal dengan keaadan banjir dan macet ini karena raut wajahnya menggambarkan kekesalan. Entah kapan kami akan lolos dari kemacetan ini jarak menuju rumah tidaklah jauh lagi hanya sekitar dua atau tiga kilometer lagi.

Untung saja Randy mengetahui jalan tikus sehingga kami bisa terbebas dari kemacetan yang dipenuhi dengan kumpulan manusia yang kesal. Kami pun tiba dirumah dengan selamat tetapi dengan keaadaan yang sangat basah pakaian yang aku gunakan sudah bagaikan ember yang penuh air lalu ditumpahkan.


Randy, Putri, Aku

Hari ini adalah hari senin, setelah upacara wakil kepsek mengumumkan bahwa sekolah mendapatkan juara di Olimpiade Science Nasional tingkat kota atau OSN kota. Oiya, Kamis lalu aku mengikuti OSN dan mendapatkan juara dua.

"Mari beri aplouse kepada Chalil" dengan semangatnya pak Ridwan memanggilku untuk ke-pentas sekolah, lalu disana aku diberikan medali dan penyeraham hal kecil lainnya.

"Selamat ya Chalil" ucapan selamat yang dilontarkan oleh Putri "Iya makasih yaa put"

"okokee lil" barisan sudah dibubarkan aku dan putri berjalan menuju kantin.

"Eh kamu banyak diliatin orang tuh" putri memulai pembicaraan sambil menuggu nasi goreng dan teh hangat yang aku pesan.

"Yaudah sih biasa aja", terkadang aku tidak terlalu memperhatikan sekitar aku hanya fokus dengan apa yang ada dijadapanku.

"Yaelah lil kok datar aja ekspresi kamu" "lah biasanya juga begini kan put" aku tersenyum kecil walau itu fake.

Setelah bincang hangat sedikit nasi goreng kami pun tiba, dengan cepat nasi gorengku sudah habis karena aku belum sarapan sejak tadi pagi.

"Aku luan ya put bel juga udah bunyi" "lah kamu niggalin aku gitu?" wajah memohonnya yang tidak pernah bisa membuatku menolaknya "Iyadeh-iyaaa"

Aku dan Putri berjalan menuju kelas Kimia, dijalan aku sepampat terfikir bahwa akan ada yg berubaah setelah peristiwa tadi pagi Sepertinya tidak ada yang berubah baguslah. Aku sedikit melamun namun dibuyarkan oleh putri "mikirin apa kamu lil?" Tanya putri, "Engga ada apa apa" jawabku sedikit terkejut


****

Akhirnya 2 jam yang melelahkan karena pelajaran kimia yang menurtku sulit bel istirahatpun berbunyi. "Kantin yok" ajak putri "Mau makan lagii?" Aku sedikit tersenyum "Ih kamu beli donat ama minuman aja aku traktir deh" bujukan putri manjur "Hihi nah gitu dong" putri terlihat sedikit kesal karena harus membujukku dahulu

"Eh kamu kenapa engga makan sama teman-teman cewe kamu put?" "Mereka pada sibuk buat tugas dari buk Sari" buk Sari mengajar pelajaran kesenian dan kami disuruh meringkas bab tiga dan empat untung saja aku sudah selesai.

"Lil tunggu sebentar ya aku mau ke kamar mandi" langsung saja ia beranjak dari kursinya dengan cepat.

Kebetulan Randy ada dikantin karena malas sendirian aku memanggil Randy. "Randyy" 

"Yooi,kenapaa boy?" Randy dengan gaya ngomongnya sok gaul terkadang membuatku tertawa kecil.

"Ah sini duduk duluu Ran" perintahku "Adaapan boy, gue pesen pangsit dulu boy" Randy pindahan dari Jakarta aku maklum saja dia begitu. Setelah Randy memesan makanannya ia pun menghampiriku.

"Ada apaan sih boy?" Gaya tengil dan sedikit sombong selalu melekat padanya. "Temeni aku sini, udah disini aja makannya, lagi pula kursi lain udah penuh", "Iyaaiyaaa boy, eh lu kok bisa sih dapat juara gitu gue liat-liat lu biasa aja" dengan sedikit seyuman sombongnya.

"Ah kamu itu, bukannya senang temannya juara malah nanya sinis" aku sedikit kesal dengan pertanyaan Randy."Eh kalian berdua lagi bicarain aku yaa?" Tiba-tiba saja Putri berada disampingku "Ah tingkat geer lu ketinggian" langsung saja Randy menjawab.

Aku tertawa kecil melihat mereka berdua gimana tidak si putri kegeeran nah si Randy emosian wajah berapa bagai peri baik dan jahat haha. "Ah sudahlah, eh Put mana bakso ama minumnya" "Ih kamu ini ya udah aku traktir nyuruh aku bawain pula lagi" Ekspresi Putri yang tadinya enak dipandang menjadi cemberut.

Dengan sedikit tertawa kecil aku berjalan dan mengambil donat dan minunku.

"Eh kita ga ada rencana jalan-jalan weekend ini?" Tanya Randy.

"Boleh juga tuh lagi pula weekend ini gue ga ada acara, tapi kemana ?" Jawab putri "Gimana kalau ke-mall aja lagi pula aku mau beli novel, Randy kamu bawa mobil ya biar kita bisa numpang ya ga put?"

"Iyaaa dong" sahut Putri.

"Weekend ini ada film bagus ga Boy, pergi nonton asik juga tuh" Randy sangat semangat "Film tentang persahabatan aja biar kita makin ngerti gitu arti persahabatan" putri senyum-senyum sendiri entah kenapa, mata kami hanya tertuju pada putri.

"Makin dilihatin makin senyum-senyum aja udah kaya orang gila aja lu put" randy tertawa kecil "ih kamu, aku keinget waktu sahabat aku jadi pacarku" jawab putri dengan sedikit jengkel namun juga tertawa sedikit "Putri Baper" serentak aku dan Randy menyela.

Aku, Randy dan Putri sontak tertawa lepas membuat seisi kantin menatap tajam kearah kami membuat kami bagaikan orang aneh, pipi Putri mulai memerah "Eh udah ah malu diliatan orang" 

"Elu sih pake baper baperan segala, yaudah minggu siang gue jemput dirumah putri ya, lil lu kerumah Putri ya biar sekalian, abis bensin mobil gue kalau jemput kalian satu-satu" Randy tertawa kecil.

Kamipun menghabiskan makanan dan balik ke kelas


Akhir Pekan


Aku menelfone Putri untuk membukakan pagarnya, setelah beberapa menit barulah aku masuk kerumah Putri.

Ketika baru masuk aku melihat mama putri berada diBalkon lantai dua yang sedang membaca majalah dan menikmati susana siang yang berawan.

Rumah Putri cukup besar dan minimalis dengan banyak ornamen batu granit yang menambah kesan mewah serta halaman depan penuh rumput dan tanaman yang indah.

"Siang te" sapaku pada tante Dina yang tak lain adalah mamanya Putri, "Eh nak Chalil masuk nak" medok jawa mama Putri sangat jelas karena memang orang jawa.

Mamaku dan Mama putri adalah sohib sejak remaja kala mereka berada dalam satu perusahaan begitulah kata mamaku saatku tanya siapa itu tante Dina.

"Lil suruh si Randy cepetan kesini udah laper gue pengen makan" Putri sebenarnya belum siap" tapi dia takutnya si Randy ngaret.

Chalil : Ran aku udah dirumah Putri kamu cepetan kesini ya

Randy : Iyaaiyaaa bro sans, senloc dong rumah putri

"Ada acara apa nih nak Bayu?" tanya tante Dina kepadaku.

"Cuman pengen refreshing aja tan sama Putri ama Randy juga, lagi pula akhir" ini banyak tugas tan." Jawabku datar

"Ooh, eh Putri kok belum siap-siap? kan mau pergi sama temennya, bilangin sama bibi ya buatin minuman untuk nah Randy" tante Dina selalu berbicara dengan nada yang rendah dan sangat sopan.

"I--iyaaa maa ini mau siap-siap lagi" ekspresi Putri sdkt kesal karema sepertinya dia sedang malas-malasan hari ini. Putri pun beranjak dari sofanya dan pergi kedapur lalu kekamarnya dilantai dua.

Aku dan tante Dina berbincang sedikit karena juga cukup lama aku tidak main kerumah Putri dan menanyakan kabar keluargaku.

"Eh om mana yaa tan?" Tanyaku, "Seperti biasa om ada tugas luar kota" jawab tante Dina.

Dari luar ada suara klason mobil yang berbunyi tiga kali menandakan Randy sudah tiba.

Tante Dina mengantar aku dan Putri menuju ke halaman. "Maa, Putri berangkat dulu yaaa" "Tan, bayu berangkat yaa" aku pamit kepada tante Dina. "Iyaa nak hati-hati yaaa dan ingat jangan pulang kemalaman" "Amaaan tan" sahutku diiringi sedikit tawa kecil.


****

Akhirnya kami tiba disalah satu Mall dekat pusat kota, kondisinya cukup ramai dengan sedikit keributan dimana-mana, "Makan dulu yok, udah lapar niih" wajah Putri memelas, "Iyaaiyaaa makan" jawab Randy ketus "Makan diresto Jepang aja yok lagi kepengen Karubi".

Putri sepertinya sangat lapar karena terlihat dari cara jalannnya yang cepat menuju salah satu restoran jepang, aku dan Randy tertinggal dibelakang Putri "Gilak tuh anak kayak engga makan satu bulan aja" Randy tampak sedikit kesal karena ia tertinggal, "Tadi dia bilang udah lapar saat masih dirumah jadi ya mungkin saja dia udah sangat lapar, Positif thinking aja Ran" jawabku datar.

"Karubi apaan Put?" tanya Randy, "BBQ gitu cuman ala jepang" jawab Putri lalu memanggil pelayan, "Karubinya satu, Shuki Shabu satu, Beef tounge satu dan Mojito mintnya satu, Kamu pesen apa lil" "Aku pesen Karubi, nasi ama Cucumber cooler aja" Karubi memang adalah menu favoritku karena rasa khasnya.

"Gue pesen Shusi ama Shasimi minumnya Maccha aja mbak" pesen Randy, "Mbak langsung dimasak aja ya" sahut Putri karena memang malas memasak sendiri walau sudah disediain tempat pembakarannya.

Setelah beberapa lama pesenan kami pun tiba, Randy yang belum pernah mencoba Karubi ingin mencoba Karubi "lil minta Karubi lu dong, gue belum pernah nyoba Karubi" "Iya nih Cobaa aja" jawabku datar, Gaya Randy saat mencoba Karubi bagaikan chef handal seperti paham banget soal Karubi. Aku dan Putri tertawa kecil melihat ekspresi Randy yang lucu itu.

"Hahahah lucu banget sih gaya kamu makan Ran" Putri sedikit tertawa "Kita harus merasakan setiap detail rasa yang kita makan" jawab randy dengan senyum arogannya yang khas, "Enak juga ya Karubi kalau tambah nasi jos nih" sontak randy mengambil sedikit nasiku "Ah kamu modus aja Ran" Randy tertawa kecil.

Seperti fenomena jaman sekarang Putri memotret lalu membuat snapgram sebelum ia memakan makanannya padahal ia sudah sangat lapar, dalam beberapa menit saja sudah banyak dm (direct message) maklum saja Putri memiliki banyak follower di Instagram.

"Boleh juga lu ya put baru bentar aja buat snapgram udah banyak yang dm" tatapan tajam Randy menuju pada Putri "Iyaa dong follower aku kan banyak" Putri tertawa kecil meremehkan Randy.


Pertemuan?



****

Selesai makan kami pergi ke Gramedia Randy pergi ke area alah tulis kantor sedangkan Putri pergi ke area buku bacaan, Putri suka membaca novel sehingga jika ada yang membuatnya tertarik akan ia beli.

Aku menemani Putri mutar-mutar mencari novel, Aku suka membaca novel tapi hanya sebatas novel seperti Shelock Holmes karena menurutku itu adalah novel yang sangat menarik.

"Kamu pernah baca novel karya Boy Chandra lil?" tanya putri "Engga put aku lebih suka baca novel karya Sit Arthur Conan Doyle" jawabku,

"Coba deh kamu baca novel ini" kata Putri sambil menunjukkan novel yang berjudul Pulang karya Boy Chandra "Mending beli buku Fisika" aku tertawa kecil "Kalau kamu mikirin fisika terus, kapan bahagianya?" jawab putri sinis

Aku tertawa kecil "Iyaaiyaa tapi kamu bisa jamin ga? novel ini bisa membuat aku tertarik" , "Aku jamin lil soalnya aku pernah baca dan bikin baper" pipi Putri memerah karena mengingat cerita yang ada dinovel ini.

Kami pun pergi membayar kekasir, Putri membawa dua novel karya Boy Chandra dan Tere liye sekaligus sedangkan aku hanya membawa satu karena paksaan Putri untuk mencoba baca novel yang katanya bisa buat baper.

Setelah selesai kami mencari Randy yang entah kemana tadi, katanya dibagian alat tulis kantor tapi setelah kami cari Randy malah tidak ada.

Putri pun menelfon Randy "Halo Ran kamu dimana?" lalu langsung saja Putri mengajakku pergi ke WC yang berada dilantai dua, ketika menaiki eskalator aku baru saja melihat seorang perempuan yang membuat jantung ini memompa darah lebih cepat, ya Shelly siapa lagi kalau bukan dia.
Shelly hanya sendirian sehingga Aku berfikir aku akan modus meniggalkan Randy dan Putri untuk mengajak Shelly makan ataupun nonton.

"Jauh amat kamu ke WC Ran kan dilantai ada" tanya Putri pada Randy "Gue tadi cari-cari kamera adanya dilantai dua eh tiba-tiba gue kebelet yaudah langsung aja ke WC, eh kita jadi nonton kan?" Randy sambil melihat jam tangannya "Kuy ah 15 menit lagi filmnya tapi gue nyari anak temen bokap dulu yaaa temen gue juga sih, katanya sih udah nyampe".

Aku dan Putri hanya mengangguk karena kali ini Randy yang akan membayarkan tiketnya, lalu Randy mengeluarkan smartphone nya dan mencoba menelfone temennya itu, setelah itu kami berjalan menuju Pizza hut dilantai satu, setelah beberapa menit jantungku kembali berdetak kencang dan ternyata teman Randy itu adalah Shelly.

Shelly dari kejauhan saja sudah terlihat betapa anggunnya gadis itu menggunakan sweater pink soft dengan rok hitam selutut itu serta memiliki bentuh tubuh yang orang-orang bilang body goals hehe, ditambah senyumannya yang sungguh menawan dan mata hitam pekatnya dibalut kulit putih diseluruh tubuhnya membuat ia bagaikan bidadari dari surga.

"Heii" sapa Shelly, aku dan Putri membalas sapaanya dengan senyuman dan sedikit menunduk kebawah.

"Eh kenalin nih temen gua, Cewe gilak ini namanya Putri, kalau sebeleh kiri gue ini namanya Chalil, mereka ini satu sekolahan sama kita sama-sama kelas X juga" Randy memperkenalkan aku dan Putri.

"Siang Putrii" sapa Shelly pada putri dengan nada lembutnya itu "Siang kembali Shel, eh nama kamu Shelly kan?" jawab Putri pada Shelly dan menanyakan namanya untuk memastikan ia tak salah. "Iyaaa put gue Putri"

"Hallo Shelly" Aku membranikan diri untuk menyapa Shelly walau aku merasakan sedikit gugup, "Hai Chalil" jawab Shelly dengan senyuman indahnyaa bagaikan bunga mawar dengan warna merah candy.

"Ayuuk ah keburu telat nanti" lalu Randy berjalan dan diikuti Putri disampingnya lalu aku berjalan bersampingan dengan Shelly, kali ini aku dapat mengendalikan diriku karena sepertinya sudah mulai bisa beradaptasi.

Sambil berjalan Randy dan Putri melihat-lihat koleksi pakaian berbagai brand dari kejauhan, aku merasa canggung meski sudah bisa mengendalikan diriku.

"Eh lil, lu yang menang lomba fisika itu kan?" tanya Shelly dengan datar dan biasa saja namun tetap saja nada yang ia keluarkan lembut. "Iyaaa Shelly" jawabku sambil tertawa kecil, "Kamu kelas berapa Shel?" tanyaku sepertinya aku sudah bisa mengendalikan suasana.

"Gue kelas IPS 3" jawab putri, aku bisa lebih santai meski aku bisa mengendalikan diriku tapi sekali-kali jantungku kembali berdetak kencang. Tak lama kemudian kami tiba di XXI, Randy dan Putri pergi membeli tiket aku pergi membeli pop corn sedangkan Shelly duduk sofa ujung tempat yang tidak terlalu terang namun dihiasi lampu-lampu berwarna oranye dan biru membuat wajah Shelly terlihat semakin anggun kalau difoto dari sudut aku berdiri pasti akan menghasilkan foto yang sangat indah.


See you Shel



Setelah membeli 2 buah pop corn ukuran extra big aku menuju meja ruang tunggu yang sudah ditempati Shelly, Putri dan Randy. "Pop corn nya kurang gak nih?" tanyaku pada mereka "Udah cukuplah rasa gue palingan nanti juga kesisa" jawab Randy "Iya bener" sambur Shelly langsung.

Tidak lama Kami menuju pintu masuk bioskop karena film akan dimulai, suasana gelap namun romantis mengelilingi jalan menuju pintu masuk. Aku duduk disamping Shelly sedangkan Randy disamping Putri, aku sengaja duduk disamping Shelly namun tidak ada niat untuk modus seperti yang dilakukan kebanyakan remaja yaitu modus. Aku baper saat dipertengahan film.

Ceritanya sangat sedih, Seorang anak laki" yang masih SMA hidup dalam kemewahan namun memilki orang tua yang cerai, kehidupannya kacau ia sudah paham betul mengenai dunia malam dan memiliki teman-teman yang kacau juga, namun seketika ia sadar akan semua hal yang ia lakukan selama ini hanya akan memperburuk dirinya tidak akan membuatnya bisa melupakan kehidupan keluarganya.

Seorang perempuan yang mampu menyadarkan ia akan semua hal yang ia lakukan dan mengajarkannya apa itu Cinta, namanya Rara dialah yang mampu mengubah kehidupan Alif. Selama mereka pacaran di SMA banyak hal yang mereka lalui, Alif memang bergelimang harta sehingga ia sempat kembali kelam setelah mengenal Stefani yang mendekati Alif hanya mengejar hartanya.

Sempat membuat Rara menyesal pernah mengenal Alif namun seketika Rara sadar bahwa jika bukan dia Alif tidak akan pernah sadar lalu diakhir cerita Alif hidup bahagia kembali bersama Rara dan ia Kembali tinggal bersama Ayahnya karena ibunya sudah pergi London.

Ceritanya begitu sedih sehingga membuat banyak orang baper termasuk Aku, Putri, dan Shelly tapi sepertinya hanya beberapa laki-laki yang menangis dibioskop itu karena kulihat kebanyakan laki-laki tidak baper termasuk Randy.

"Ciee baper lu cemen ah" Randy mengejekku karena aku menangis tadi, Kamu gaboleh gitu Ran emang sedih kok filmnya" "Iyaa sedih lu aja yang ga punya hati Ran" Putri dan Shelly membelaku karena mereka berada diposisiku. "Iyaaaaiyaaa" jawab Randy dengan nada sedikit tinggi.

"Lu kok bisa nangis lil?" tanya Shelly padaku "Aku emang selalu baper kalau nonton film begituan karena aku ngerasa itu aku banget gitu" jawabku pada Shelly dengan nada datar yang selalu aku keluarkan.

"Jadi lu pasti paham dong gimana perasaan cewe-cewe"tanya Shelly lagi padaku sambil berjalan menuju parkiran. "Yaa gitudeh paham-paham sedikit laa" jawabku, tidak ada lagi perasaan yang begitu canggung ketika aku berbicara dengan shelly.

"Shel boleh minta wa kamu?" tanyaku "Id line kamu aja biar aku add sini" jawab shelly sambil mengambil handphonenya "Add aja tukwaga" "Haha lucu ya ID line kamu lil" Shelly mencatat ID lineku lalu ada telfone masuk dihpku setelah kucek hp ku trnyata itu adalah Shelly yang iseng menelfone.

"Ih kamu rupanya Shel" "Waaa kena joke nih hehe" Shelly pun tersenyum kecil, senyuman itu menambahkan keanggunan Shelly Tersenyumlah setiap saat karena itu membuatku bahagia Shel aku membatin.

Aku sebenarnya belum terlalu ingin untuk membuka hati kepada seorang wanita karena aku masih ragu aku tidak ingin hati ini kembali terluka. sebelumnya aku pernah merasakan apa itu cinta, sebuah perasaan yang indah namun hanya sebentar karena cinta itu berpaling.

Aku belum siap untuk kembali tersakiti, perasaan itu sangat lama aku rasakan membuat banyak dari kehidupanku berubah sakit sekali rasanya jantung ini rasanya ditusuk oelh ribuan jarum yang tajam, aku hanya memendam rasa sakit ini, cinta pertama yang kurasakan berakhir sakit yang dalam kurasakan untuk pertama kalinya.

"Hei kok diam aja" Shelly membuyarkan lamunanku "Hehe gaaada apa-apa kok" jawabku diringi sebuah senyuman yang fake. Aku bingung pada perasaanku sendiri disatu sisi aku akan bahagia jika menjalin hubungan tapi disisi lain aku belum berani benar-benar mencintai seorang wanita LAGI.

"Mau kemana lu?" sorak Shelly padaku, aku yang masih tenggelam dalam lamunanku terus aja berjalan tanpa memeperhatikan Shelly rupanya sudah tidak disampingku lagi. "Eh kamu ga ikutan sama kami?" tapi setelah aku perhatikan sekitar ternyata Putri dan Randy sudah tidak ada lagi bersama kami entah keman mereka pergi.

"Tungguin aku disini supir belum jemput gue nih" "Randy sama Putri mana?" tanyaku pada Shelly, "Eh iyaaiyaaa aku juga baru sadar" jawab Shelly "Iyaaa aku tungguin kamu disini".

Telfonku berdering ternyata Putri menelfone,

"Halo put kamu dimana?" tanyaku

"Aku diparkiran sama Randy kamu dimana" jawab Putri

"Aku masih nugguin Shelly supirnya belum jemput katanya"

"Okee kami tungguin ya dimobil" lalu putri menutup telfone

Tak ada obrolan selama aku menuggu Shelly kami hanya tenggelam dalam kesibukan masing-masing tak beberapa lama setelah aku dan Shelly menuggu akhirnya Shelly dijemput.

"Aku balek duluan ya lil, see youu" Shelly melemparkan senyum manisnya, lalu membuka pintu mobil "Iyaaa hati-hati ya Shel, see youu" jawabku pada Shelly membalas senyuman manisnya.

Aku menatap kepergian mobil itu setelah tak terlihat lagi Aku berjalan menuju parkiran karen Putri dan Randy sudah menugguku. "Lama amat sih lil" tanya Randy "Supir Shelly lama jemputnya" jawabku.

Tunggu Kelanjutannya yaa Readers jangan lupa bagiin keteman-teman jugaa 

Share Happiness...:)

Comments

Post a Comment